Senin, 30 Mei 2016



5 Kebiasaan Efektif untuk Penulis Fiksi

1. Mengatasi Hambatan Menulis
Hambatan menulis biasanya menyerang seseorang yang menulis tanpa konsep. Jadi biasakanlah sebelum menulis, Anda harus menyusun konsep yang terperinci tentang tulisan Anda. Tulis beberapa kalimat yang mewakili bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir dari tulisan Anda. Konsep inilah yang nantinya Anda jadikan pedoman saat menulis. Percayalah, Anda tidak akan mengalami kebuntuan menulis lagi kalau membiasakan diri menggunakan cara ini.

2. Membuat Outline atau Kerangka Tulisan
Para senior dalam dunia kepenulisan mengatakan,  cerpen sebaiknya telah selesai dalam kepala Anda sebelum Anda mulai menulisnya.
Jika Anda tidak punya tujuan menulis, Anda berpotensi kehilangan banyak waktu. Setiap saat Anda terpaksa berhenti untuk berpikir dan bertanya apa lagi yang harus saya tulis?
Maka jalan keluar terbaik adalah menyusun kerangka tulisan atau outline yang terdiri dari pendahuluan, isi, dan pengakhiran.

3. Prioritaskan Menulis Dalam Jadwal Anda
Menulis bukan perkara Anda punya waktu atau tidak. Menulis adalah pilihan.
Jika menulis penting bagi Anda, maka prioritaskan menulis dalam agenda kegiatan Anda.

4. Berusaha Mengerti Keinginan (Pembaca)
Orang bijak mengatakan, Penulis yang baik berusaha memahami orang lain sebelum minta dirinya dipahami.
Memang selayaknya penulis harus mempunyai kerendahan hati. Sikap ini akan mampu membawa tulisannya diterima oleh semua kalangan pembacanya.
Caranya adalah mempelajari materi yang telah berhasil diterbitkan, misalnya cerpen yang dipublikasikan oleh koran mingguan. Luangkan waktu untuk membaca dan menganalisa cara penyajian cerpen tadi sehingga lolos untuk diterbitkan.

5. Belajar, Belajar, dan Terus Belajar
Seorang penulis juga perlu mengasah pena demi menjaga kelangsungan menulisnya. Banyak manfaat yang bisa Anda petik dari kebiasaan belajar ini, antara lain Anda akan akrab dengan ribuan kosa kata sehingga tulisan Anda akan terasa enak untuk dibaca.
Cara belajar menulis yang terbaik hanya ada satu cara yakni dengan mmpraktekkannya. Belajar menulis itu seperti belajar berenang, sebanyak apa pun teori yang Anda pelajari, tidak akan ada gunanya kalau tidak diuji coba.

Jumat, 18 Maret 2016

Cara Menjaga Mood Menulis Tetap Menyala



Mengapa ada penulis yang tidak produktif menghasilkan tulisan? Kenapa tidak konsisten menghasilkan tulisan? Beragam alasan disampaikan: “Apa yang harus ditulis?” Tak punya persediaan atau bahan untuk dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kadang yang sering muncul adalah pernyataan, “Sedang tak ada mood menulis!”

Mood adalah suasana hati, bisa baik dan bisa buruk, tergantung banyak hal.

Menariknya adalah bahwa mood dapat dikelola. Kita bisa mengkondisikan mood baik dan mencegah terwujudnya suasana hati yang kacau. Tetapi yang sering terjadi adalah kita terlena dengan suasana hati yang buruk menimpa diri dan kita hanya pasrah jiwa raga.

Bagaimana cara menanggulangi kondisi "sedang tidak ada mood" sehingga kita bisa setiap saat menulis? Berikut ada beberapa kiat yang mungkin bisa dicoba.

1. Jangan biarkan bahan tulisan "kosong". Sepertinya bernada gurauan namun memang kenyataannya demikian. Coba kita pikir, kalau bahan tulisan selalu tersedia, maka dorongan untuk menulis tak pernah surut. Faktanya, gelas kalau terus diisi air akan melimpah ruah juga. Pikiran pun sama, kalau dipenuhi dengan gagasan atau ide, tentu akan tumpah juga; baik dalam bentuk lisan atau tulisan.

2. Bikin komitmen untuk menulis. Tegaskan pada diri sendiri harus menulis satu halaman tiap hari tentang sembarang hal, misalnya. Langkah ini tentu akan menciptakan mood menulis tetap menyala. Ini adalah strategi melawan kemalasan. Biarkan mood baik menuliskan tentang apa saja, namun seiring berjalannya waktu, kita akan mampu memilah untuk fokus pada satu tema. Kabar baiknya, kita tidak hanya berkomitmen dengan keharusan menulis satu hari satu halaman, namun kita bisa maksimalkan kuantitasnya, misalnya sampai 20 lembar. Mungkinkah? Mungkin saja, di dunia ini tidak ada hal yang mustahil kalau diri kita sudah bertekad bulat untuk melakukan hal terbaik. Percayalah!

3. Usahakan mempunyai persediaan bahan tulisan lebih dari satu judul. Hal ini untuk menyiasati agar kita tidak jenuh menggarap satu tema. Dan kiat ini bisa membuat tulisan kita semakin luas perspektifnya. Menggarap banyak tema tulisan dalam waktu yang sama akan membuat otak terus berpikir dan lubang-lubang kebuntuan mood bisa ditutupi. Otak kita akan bekerja dengan penuh semangat kegembiraan karena bisa bermain meloncat dari satu tema ke tema yang lainnya. Anda ingin mencoba? Cobalah, karena tidak butuh biaya. Tuhan memberi kelebihan pada otak manusia lebih dari yang kita kira.

Kita pasti bisa membuat cara lain agar mampu menjaga mood menulis. Tetapi, semuanya bermuara pada satu titik, yaitu niat. Kalau niat kita kuat, maka tidak ada yang namanya " tak ada mood".

Selasa, 15 Maret 2016

Bagaimana Cara Menulis yang Menyenangkan itu?



Menulis adalah pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Jadi rasanya janggal kalau judul di atas berbunyi "Bagaimana Cara Menulis yang Menyenangkan itu?" Itulah tantangan kita. Berikut ini ada beberapa cara yang mudah-mudahan bisa membuat kita menulis dengan cara yang menyenangkan.

1. Semangat Menulis 
Mengerjakan segala sesuatu memang harus dilandasi semangat, termasuk menulis. Rasanya sebuah pekerjaan tidak akan selesai kalau tidak ada semangat. Disamping itu, sebuah tulisan akan terasa "bau" semangatnya saat dibaca. Penulis yang mendasari tulisannya dengan "semangat" akan lebih menikmati untuk menggarap karya tulisnya. Semangat adalah motor penggerak yang bikin kita antusias untuk menyelesaikan pekerjaan.

2. Menulis harus Menyenangkan 
Dalam diri setiap manusia dewasa sebenarnya ada keinginan untuk bermain seperti semasa kanak-kanak. Namun lingkungan memaksa manusia dewasa untuk tidak melakukannya. Tetangga sekitar akan geleng-geleng kepala kalau melihat manusia dewasa seru-seruan main layang-layang. Semua manusia dewasa pernah mengalami masa kanak-kanak maka pengalaman itu mustahil bisa dihilangkan begitu saja dari memori. Keriangan bermain di masa kecil dapat kita transformasikan saat kita menulis. 

Jadikan waktu menulis menjadi waktu bermain yang seru.  Kita bisa bikin aturan, misalnya tidak boleh bicara, tapi harus menulis di kertas. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan lucu sehingga menarik untuk menuliskan jawabannya di kertas.  Cobalah menciptakan permainan-permainan yang baru. 

3. Bikin Tempat Nyaman untuk Menulis
Rumahku adalah istanaku adalah kata kunci yang tepat untuk merealisasikan mimpi kita untuk menjadi penulis kreatif. Buatlah tempat kerja atau sebuah pojok istimewa untuk menulis. Lengkapi dengan kertas dan aneka alat tulis berwarna. Kita akan selalu termotivasi untuk menulis saat memasuki ruang istimewa ini. Aura kreatif akan merasuki diri kita kalau suasana tempat itu dibuat total untuk calon penulis. Kita bisa tempeli kata-kata motivasi tentang kepenulisan sehingga semangat kita tetap terjaga. Misalnya, Untuk jadi penulis hanya butuh 1% bakat dan 99% kerja keras. Menulislah sebanyak mungkin mumpung toko buku masih banyak. Dan lain-lain.  

4. Kreatif dengan Aneka Barang 
Orang kreatif selalu punya jalan keluar dan alur pikiran yang lain dari kebanyakan orang. Orang-orang kreatif punya cara tersendiri untuk mengekpresikan keinginannya. Pekerjaan menulis tidak melulu harus rapi di tempat yang sudah tersedia karena ide bisa datang kapan saja dan dimana saja. Untuk itu orang kreatif bisa memaksimalkan media apapun untuk menangkap ide yang datang, di gadget, di lembar kertas, di dinding kamar misalnya. Percikan ide ini nantinya bisa dijabarkan sepenuh hati dan konsentrasi maksimal untuk dituang di lembar kerja yang sesungguhnya.


Minggu, 14 Februari 2016

Siapa yang Berhak Menulis Buku?



Menulis buku hanya mengenal semangat untuk menyampaikan pengetahuan, pengalaman, dan perasaan

Pertanyaan di atas memberi peluang jawaban yang beragam seperti bias sinar yang dipantulkan permata. Orang yang optimis akan menjawab, semua orang berhak menulis buku. Si pesimis bergumam, tentu saja hanya orang lulusan sekolah tinggi yang punya hak. Masing-masing didukung alasan yang kelihatannya membenarkan. Mana yang benar?

Si pesimis memang ada benarnya. Untuk menulis buku yang berkualitas tentu bukan sembarang orang. Penulisnya harus bertitel ini dan itu. Harus sekolah dulu yang tinggi sehingga pantas untuk menulis buku yang sahih, buku yang jadi rujukan banyak orang. Lantas bagaimana dengan pandangan Si optimis?

Si optimis adalah gambaran manusia masa kini, Si pembela hak asasi manusia. Menurutnya, semua orang; tak peduli tua atau muda, pria atau wanita; berhak menulis buku. Memang menulis buku tidak mengenal usia dan gender. Menulis buku hanya mengenal semangat untuk menyampaikan pengetahuan, pengalaman, dan perasaan. Tapi Si optimis melupakan satu hal, apa yang jadi bahan tulisannya?

Lagi-lagi Si optimis mengajukan dalih bahwa bahan tulisan adalah hak semua manusia dengan catatan tidak melanggar hak asasi manusia. Nah, kalau begini urusannya jadi agak terang dan gamblang. Selama manusia sudah mengenal pengetahuan, pengalaman, dan perasaan; maka ia berhak untuk menulis buku. Benarkah? begitu gampangkah menulis buku? 

Anak TK dengan arahan  orangtuanya bisa lho menulis buku sederhana yang bercerita tentang mainan dan binatang piaraannya misalnya. Anak SD yang tentu sudah mengenal pengetahuan dan perasaan dapat dibiasakan untuk menulis buku harian. Anak SMP dapat dikenalkan menulis fiksi dan non fiksi berdasar kejadian sehari-hari. Anak SMA dibiasakan menulis sehingga menjadi kebutuhan. Dan akhirnya di masa belajar di perguruan, tulisan-tulisan yang dihasilkan semakin berbobot.

Mengapa sepanjang umur kita tidak berhasil menulis satu buku pun? Karena pikiran kita sudah tercipta stigma bahwa menulis buku itu melelahkan dan menguras pikiran. Betul! Tapi coba Anda melakukan pendekatan melalui cara yang saya sodorkan di atas. Anda pasti keranjingan menulis buku. Tak percaya? Cobalah!

Kamis, 11 Februari 2016

Cara Menjaga Konsistensi Menulis meski Rintangan Menghadang



  

Semua penulis pasti pernah mengalami masa krisis dalam dunia kepenulisannya. Masa itu ditandai dengan ketidakberdayaan merealisasikan ide menjadi karya tulis. Padahal selama ini tidak ada masalah. Mengapa?

Manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Hal penting yang harus disadari manusia ialah bahwa ada kekuasaan di luar kehendak manusia. Dialah yang mengatur keselarasan alam agar berjalan harmonis. Kekuatan itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta. Tuhan Yang Maha Mengetahui. 

Barangkali anda perlu mengingat bahwa di dnia ini selalu berpasangan. Siang dengan malam, pria dengan wanita, suka dengan duka, tawa dengan sedih, sehat dengan sakit. Kenapa? Karena manusia butuh alat untuk memahami sesuatu. Anda baru bisa memahami nikmatnya sehat setelah mengalami sakit. 

Sakit adalah takdir Tuhan untuk manusia. Sakit merupakan indikator bahwa manusia butuh istirahat. Saat sakit maka Anda perlu menenangkan psikis dan fisik. Anda boleh saja punya segudang ide yang siap dituang, namun kalau fisik dan psikis tidak mendukung, maka ide itu tidak ada gunanya.

Sakit adalah karunia Tuhan sebagai pengingat bahwa Anda perlu menjaga diri. Menjaga pola makan dan menjaga ketertiban gaya hidup menjadi hal yang harus diperhatikan. Biasanya seorang penulis kerja lembur karena mumpung banyak ide. Kebutuhan psikis dan fisik tidak digubris. Maka sakit adalah konsekuensinya.  

     

     

Kamis, 04 Februari 2016

Cara Menjadi Sang Juara Menulis



Penulis sejati pantang berkeluh-kesah saat menulis
  

Setiap manusia pasti pernah berkeluh-kesah. Biasanya sikap ini muncul saat seseorang menganggap punya beban kerja yang berat. Namun seiring pengalaman dan pengetahuan, seseorang akan belajar menyikapi beban kerja tersebut dengan cara yang positif dan produktif. 

Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia tulis-menulis pun tak ayal akan mencicipi perasaan berkeluh-kesah. Sikap ini ibarat kalah sebelum bertanding. Dalam diri penulis perlu ditumbuhkan sikap pantang menyerah dan rela berkorban sampai titik tinta penghabisan sebelum menuntaskan sebuah karya tulis. Etos kerja seperti ini akan memacu gerak kreatifitas pikiran agar fokus untuk segera selesaikan tugasnya. 

Siapa pun orangnya yang gemar berkeluh-kesah pasti tidak akan menghasilkan apa pun. Orang-orang seperti ini perlu introspeksi dan mengevaluasi minat menulisnya. Motivasinya harus dibuat jelas dan gamblang, untuk apa Anda menulis? Beragam jawaban dan alasan bisa muncul; karena motif ekonomi, cita-cita luhur ingin perbaiki kehidupan sosial masyarakat, dan sebagainya. 

Berkeluh-kesah dalam diri penulis biasanya berwujud sikap malas meneruskan tulisan yang baru saja dikerjakannya. Sebenarnya untuk menghadapi sikap berkeluh-kesah, Anda bisa menciptakan variasi media untuk menulis. Misalnya, Anda tidak monoton harus menulis memakai komputer, pakai tinta warna hitam, dan hal-hal lain yang menjadi rutinitas. Cobalah menulis dengan beragam warna tinta, menerjemahkan kalimat melalui coretan ilustrasi, dan lain-lain. Anda bisa eksplorasi ide-ide baru tentang cara menulis yang menyenangkan. Dan Anda sendiri yang tahu jawabannya. 

Cara sederhana memanipulasi sikap mengeluh saat Anda menulis adalah menggunakan kertas yang berpola menyerupai bentuk daun, buah, atau objek lainnya. Anda pasti akan menyukai dengan cara baru ini mengingat pikiran Anda tidak jenuh selalu memandangi bentuk kertas yang persegi itu. Apalagi kalau Anda membuat pola yang tersusun menjadi sebuah objek yang komplek, misalnya sebentuk pohon dengan daun-daun kertas kosong yang bisa Anda tulisi dengan beberapa paragraf. Pasti hasilnya Anda tidak jenuh dan tidak mengeluh lagi. Cobalah!

Cara Cepat dan Tuntas Menulis Cerita Pendek

1. Mencari ide  Ide bisa datang dari mana saja, jadi bawa buku kecil kemana saja Anda pergi. Tulis semua ide yang melintas di pikiran An...