Minggu, 12 Juni 2016

Belajar Menulis Fiksi




Coba Anda menuliskan karakter siapa saja yang Anda jumpai di rumah, di jalan, di pasar, di sekolah, dan seterusnya. Amati orang-orang tadi dengan gambaran fisik lebih dulu, lalu coba menerjemahkan melalui bentuk tulisan. Misalnya, tinggi badan, bau badan, bentuk badan, ciri rambut, bentuk mata, bentuk dagu dan seterusnya.

Sekarang beralih pada kebiasaan yang menonjol orang-orang tersebut. Misalnya, saat batuk, tokoh ini menutup mulut dengan tangannya; saat bicara, tokoh ini seringkali mengelus-elus kumisnya; saat melihat, tokoh ini memicingkan sebelah matanya; dan seterusnya.

Atau Anda ingin menuliskan tentang orang-orang yang tersebut melalui kesukaannya pada barang yang melekat di tubuhnya. Misal, tokoh ini gemar memakai kaos warna mencolok; ada yang gemar memakai gelang sampai sebatas siku; suka melingkarkan seekor ular di leher; dan seterusnya.

O iya, satu lagi yang terlupa. Anda bisa juga mengutip filosofi atau cara pandang orang-orang tersebut ( ini kalau Anda sempat bicara panjang lebar dengan mereka tentunya ).  Anda akan peroleh pengalaman dan juga menambah ilmu.

Melalui pendekatan ini, saya jamin Anda akan keasyikan menulis. Dan manfaat dari kebiasaan tulis menulis karakter tokoh ini adalah Anda suatu saat tidak akan mengalami kesulitan lagi menulis cerpen, misalnya. Karena semua tahu bahwa salah satu komponen cerpen adalah tokoh.

Demikian sedikit tulisan pada artikel ini, semoga bermanfaat. Selamat mencoba.

Jumat, 03 Juni 2016

Tempat yang Nyaman untuk Menulis



Kalau Anda mau sukses menjadi penulis, carilah tempat yang nyaman untuk menulis! Ya, sepertinya berlebihan, namun tahukah Anda bahwa faktor tempat memang berpengaruh terhadap produktifitas penulis.

Anda boleh berkilah bahwa menulis saja kok perlu tempat khusus. Menulis dimana pun tak masalah yang penting adalah ide dan ketrampilan mengolah kata. Memang benar, namun secara kasat mata, orang akan lebih menyukai tempat yang nyaman daripada tempat yang bising ketika disuruh menulis!

Jadi, masalah tempat tidak boleh dipandang sebelah mata. Tempat yang nyaman akan membuat penulis lebih lancar mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya.

Nah berikut ada beberapa referensi bagi Anda tentang beberapa tempat yang ideal untuk menulis. Mari simak, barangkali bermanfaat.

1. Kamar Tidur
Kamar tidur adalah tempat paling favorit karena sangat privat,  tenang, dan aman dari gangguan orang lain. Anda pun bisa memilih sudut favorit dan menatanya sesuai keinginan.

2. Ruang Kerja
Anda bisa menyediakan ruang kerja khusus di salah satu sudut rumah. Kemudian menatanya sesuai keinginan dengan barang-barang yang menunjang kegiatan menulis. Menulis di ruang kerja khusus, akan membuat Anda menjadi penulis profesional. Mau mencoba?

3. Taman
Cobalah menulis di ruang terbuka yang hijau dan indah seperti di taman, misalnya. Menulis sambil menikmati keindahan taman akan memberikan suasana baru. Mungkin keindahan taman dengan bunga-bunga bisa menciptakan mood menulis yang bagus. Bahkan sangat mungkin suasana taman memunculkan ide-ide segar untuk bahan tulisan.

4. Perpustakaan
Perpustakaan merupakan ruang publik yang sangat nyaman untuk aktivitas membaca dan menulis. Meski ramai, ruang pustaka tetap tenang. Di perpustakaan akan lebih mudah menemukan buku-buku referensi. Perpustakaan termasuk tempat menulis favorit banyak penulis.

Selamat memilih tempat menulis favoritmu.



Rabu, 01 Juni 2016

Cara Menulis dengan Inspirasi dari Tayangan Televisi



Cobalah menuliskan apa saja yang terlintas di benak Anda. Misalnya, saat Anda menonton telivisi yang sedang menayangkan acara kuliner. Tiba-tiba saja Anda merasa mendapat inspirasi untuk menuliskan sesosok  tokoh petualang yang senang makan masakan di berbagai daerah yang disingahinya.

Langsung tancap gas, eh, tancap bolpoin di atas kertas. Tulis apa saja yang terkait dengan diri petualang yang sedang ada dalam benak Anda. Agar menarik, tentu saja Anda harus membubuhinya dengan cerita misteri yang melingkupi daerah-daerah yang disinggahinya, misalnya.

Dan suguhkan semua pengalaman tokoh Anda ini dengan segenap penggambaran panca indera yang total saat menikmati sajian kuliner. Bagaimana tampilan masakan yang tersaji, bau aneka rempah dan kepulan nasi pulen yang baru saja matang, lembutnya daging ikan segar yang barusan diambil dari sungai, dan seterusnya.

Tak hanya berhenti di situ saja. Anda bisa melengkapi petualangan tokoh ini dengan sentuhan pelajaran yang berguna bagi pembaca saat mengalami atau menyaksikan insiden di perjalanan. Anda bisa menyisipkan kata-kata bijak ketika tokoh Anda menasihati seseorang. Atau bisa juga menunjukkan perilaku baik tokoh ini terhadap alam, misalnya.

Demikian contoh menulis yang menyenangkan dengan inspirasi dari melihat tayangan televisi. Selamat mencoba! Semoga bermanfaat.


Selasa, 31 Mei 2016

Jangan Biasakan Mengkritik Tulisan Sendiri



Secara tidak disadari, manusia adalah makhluk yang paling senang mengkritik. Coba Anda sadari, saat menonton sepakbola misalnya, Anda kerap menyalahkan pemain ini pemain itu bahkan wasit. Setelah pertandingan usai, tanpa diminta, Anda serta-merta memberi komentar.

Pemikiran kritis itu bagus untuk memberi masukan pada yang kurang. Dalam dunia kepenulisan, mengkritisi tulisan yang baru saja Anda selesaikan merupakan tindakan terburu-buru dan tidak mendidik. Hal ini akan menghambat proses pembelajaran Anda, terutama bagi penulis pemula.

Coba disadari, misalnya Anda selesai menulis satu paragraf, Anda merasa ada beberapa kata atau kalimat yang tidak enak dibaca, lalu Anda mencoret dan meremas-remas kertas, lantas membuangnya di keranjang sampah.

Anda menulis lagi, membacanya. Anda renungkan, ternyata Anda temui lagi kata atau kalimat yang kurang enak dibaca. Lalu dicoret dan dibuang lagi. Begitulah seterusnya dan seterusnya.
Walhasil, Anda pusing dan menyerah, kemudian memberi kesimpulan sendiri, ternyata menulis itu tidak mudah.

Apa masalahnya?

Rupanya Anda terlalu ingin sempurna. Padahal, kita tidak akan pernah sempurna melakukan sesuatu pada saat memulai pekerjaan. Tidak percaya?

Ingatkah Anda ketika belajar mengendarai sepeda di waktu kecil? Pasti sering jatuh bukan?
Ya, itu wajar karena Anda baru pertama kali belajar. Bandingkan dengan keadaan sekarang, Anda sudah mahir bersepeda. Nah, itu artinya Anda harus melalui tahapan demi tahapan sampai Anda menemukan cara terbaik untuk mahir bersepeda, termasuk di bidang tulis menulis.

Saat pertama kali menulis, Anda akan merasakan susah sekali menulis. Namun bila Anda sering mengulang, rutin menulis setiap hari, pasti akan mahir juga.

Bentuklah kebiasaan menulis setiap hari. Semakin sering menulis, semakin bagus hasil tulisan. Anda tidak akan mengeluh lagi. Anda akan merasakan betapa lancarnya menulis kalau menulis tanpa beban, menulis tanpa mengkritisi hasil tulisan sendiri.  Untuk sampai pada kesuksesan dalam dunia penulisan, Anda jangan berpikir sempurna dulu.

Semoga bermanfaat.

Senin, 30 Mei 2016



5 Kebiasaan Efektif untuk Penulis Fiksi

1. Mengatasi Hambatan Menulis
Hambatan menulis biasanya menyerang seseorang yang menulis tanpa konsep. Jadi biasakanlah sebelum menulis, Anda harus menyusun konsep yang terperinci tentang tulisan Anda. Tulis beberapa kalimat yang mewakili bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir dari tulisan Anda. Konsep inilah yang nantinya Anda jadikan pedoman saat menulis. Percayalah, Anda tidak akan mengalami kebuntuan menulis lagi kalau membiasakan diri menggunakan cara ini.

2. Membuat Outline atau Kerangka Tulisan
Para senior dalam dunia kepenulisan mengatakan,  cerpen sebaiknya telah selesai dalam kepala Anda sebelum Anda mulai menulisnya.
Jika Anda tidak punya tujuan menulis, Anda berpotensi kehilangan banyak waktu. Setiap saat Anda terpaksa berhenti untuk berpikir dan bertanya apa lagi yang harus saya tulis?
Maka jalan keluar terbaik adalah menyusun kerangka tulisan atau outline yang terdiri dari pendahuluan, isi, dan pengakhiran.

3. Prioritaskan Menulis Dalam Jadwal Anda
Menulis bukan perkara Anda punya waktu atau tidak. Menulis adalah pilihan.
Jika menulis penting bagi Anda, maka prioritaskan menulis dalam agenda kegiatan Anda.

4. Berusaha Mengerti Keinginan (Pembaca)
Orang bijak mengatakan, Penulis yang baik berusaha memahami orang lain sebelum minta dirinya dipahami.
Memang selayaknya penulis harus mempunyai kerendahan hati. Sikap ini akan mampu membawa tulisannya diterima oleh semua kalangan pembacanya.
Caranya adalah mempelajari materi yang telah berhasil diterbitkan, misalnya cerpen yang dipublikasikan oleh koran mingguan. Luangkan waktu untuk membaca dan menganalisa cara penyajian cerpen tadi sehingga lolos untuk diterbitkan.

5. Belajar, Belajar, dan Terus Belajar
Seorang penulis juga perlu mengasah pena demi menjaga kelangsungan menulisnya. Banyak manfaat yang bisa Anda petik dari kebiasaan belajar ini, antara lain Anda akan akrab dengan ribuan kosa kata sehingga tulisan Anda akan terasa enak untuk dibaca.
Cara belajar menulis yang terbaik hanya ada satu cara yakni dengan mmpraktekkannya. Belajar menulis itu seperti belajar berenang, sebanyak apa pun teori yang Anda pelajari, tidak akan ada gunanya kalau tidak diuji coba.

Jumat, 18 Maret 2016

Cara Menjaga Mood Menulis Tetap Menyala



Mengapa ada penulis yang tidak produktif menghasilkan tulisan? Kenapa tidak konsisten menghasilkan tulisan? Beragam alasan disampaikan: “Apa yang harus ditulis?” Tak punya persediaan atau bahan untuk dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kadang yang sering muncul adalah pernyataan, “Sedang tak ada mood menulis!”

Mood adalah suasana hati, bisa baik dan bisa buruk, tergantung banyak hal.

Menariknya adalah bahwa mood dapat dikelola. Kita bisa mengkondisikan mood baik dan mencegah terwujudnya suasana hati yang kacau. Tetapi yang sering terjadi adalah kita terlena dengan suasana hati yang buruk menimpa diri dan kita hanya pasrah jiwa raga.

Bagaimana cara menanggulangi kondisi "sedang tidak ada mood" sehingga kita bisa setiap saat menulis? Berikut ada beberapa kiat yang mungkin bisa dicoba.

1. Jangan biarkan bahan tulisan "kosong". Sepertinya bernada gurauan namun memang kenyataannya demikian. Coba kita pikir, kalau bahan tulisan selalu tersedia, maka dorongan untuk menulis tak pernah surut. Faktanya, gelas kalau terus diisi air akan melimpah ruah juga. Pikiran pun sama, kalau dipenuhi dengan gagasan atau ide, tentu akan tumpah juga; baik dalam bentuk lisan atau tulisan.

2. Bikin komitmen untuk menulis. Tegaskan pada diri sendiri harus menulis satu halaman tiap hari tentang sembarang hal, misalnya. Langkah ini tentu akan menciptakan mood menulis tetap menyala. Ini adalah strategi melawan kemalasan. Biarkan mood baik menuliskan tentang apa saja, namun seiring berjalannya waktu, kita akan mampu memilah untuk fokus pada satu tema. Kabar baiknya, kita tidak hanya berkomitmen dengan keharusan menulis satu hari satu halaman, namun kita bisa maksimalkan kuantitasnya, misalnya sampai 20 lembar. Mungkinkah? Mungkin saja, di dunia ini tidak ada hal yang mustahil kalau diri kita sudah bertekad bulat untuk melakukan hal terbaik. Percayalah!

3. Usahakan mempunyai persediaan bahan tulisan lebih dari satu judul. Hal ini untuk menyiasati agar kita tidak jenuh menggarap satu tema. Dan kiat ini bisa membuat tulisan kita semakin luas perspektifnya. Menggarap banyak tema tulisan dalam waktu yang sama akan membuat otak terus berpikir dan lubang-lubang kebuntuan mood bisa ditutupi. Otak kita akan bekerja dengan penuh semangat kegembiraan karena bisa bermain meloncat dari satu tema ke tema yang lainnya. Anda ingin mencoba? Cobalah, karena tidak butuh biaya. Tuhan memberi kelebihan pada otak manusia lebih dari yang kita kira.

Kita pasti bisa membuat cara lain agar mampu menjaga mood menulis. Tetapi, semuanya bermuara pada satu titik, yaitu niat. Kalau niat kita kuat, maka tidak ada yang namanya " tak ada mood".

Cara Cepat dan Tuntas Menulis Cerita Pendek

1. Mencari ide  Ide bisa datang dari mana saja, jadi bawa buku kecil kemana saja Anda pergi. Tulis semua ide yang melintas di pikiran An...