Rabu, 09 November 2016

Cara Menulis yang Menyenangkan



“Tulisan itu rekam jejak. 
Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. 
Tulislah hal-hal yang berarti,  yang tak akan pernah kau sesali kemudian.” 
( Helvy Tiana Rosa )


Tahukah Anda bahwa karya tulis merupakan gambaran rekam jejak pengalaman dan pengetahuan seorang penulis. Pembaca akan mengetahui kejujuran penulisnya ketika membaca sebuah buku. Dibilang penulis jujur kalau bukunya memberi nilai positif bagi pembacanya. Buku yang dilempar pembacanya begitu saja meski belum menuntaskannya tentu hasil karya penulis yang tak jujur karena tidak menguasai topik.

Penulis yang tidak menguasai topik biasanya memaksa menulis sebuah tema yang tidak sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya. Padahal inilah kunci supaya bisa menulis dengan cara menyenangkan. Ya, betapa menyenangkan kalau Anda bekerja sesuai dengan kemampuan. Begitu halnya dengan menulis. Penulis akan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mewujudkan tema yang digarapnya dengan senang hati.

Penulis yang menulis dengan senang hati tentu akan menghasilkan karya tulis yang terasa renyah untuk dinikmati. Pembaca akan sangat berterima kasih kepada penulis yang telah berbagi pengalaman dan pengetahuannya sehingga tidak sia-sia mengeluarkan uang untuk membeli buku. Kesimpulannya, kejujuran akan membuat senang semua pihak; penulis dan pembacanya.

Menulis dengan jujur adalah cara paling menyenangkan untuk memulai proyek menulis. Karena Anda bisa mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman yang Anda miliki. Kejujuran memang mengasyikkan. Anda bisa menulis semaksimal mungkin tanpa harus membohongi pembaca dengan berpura-pura tahu segala hal. 

Coba tentukan satu tema yang Anda kuasai sesuai pengalaman dan pengetahuan. Ketika menuliskannya, Anda akan merasa sangat puas. Ya, puas karena telah menuliskan sesuatu sesuai kemampuan dengan senikmat mungkin. Dan puas karena telah berbagi hal-hal positif kepada orang lain, dalam hal ini, dengan pembaca.


Surabaya, 09 Nopember 2016


Senin, 07 November 2016

Terus Menulis Hingga Tercapai Tujuan



Jangan menyerah dalam menulis. 
"Ini adalah masalah stamina, jadi jangan putus asa jika Anda menemui gang buntu 
dan harus memulai dari awal, atau jika Anda menerima surat penolakan lagi. 
Semua penulis sukses pernah menjalani itu, namun mereka terus menulis 
dan tidak menyerah hingga tercapai tujuan mereka." 
( Tim Maleeny )


Apa pun profesi yang Anda sandang, jika ingin berhasil maka sepatah kata yang perlu Anda ingat adalah "Pantang Menyerah". Tak terkecuali pada bidang tulis-menulis. Jangan menyerah dalam menulis. Begitu Anda lelah, putus asa, dan menyerah: kesuksesan akan lari dari kehidupan Anda.

"Ini adalah masalah stamina," kata seorang bijaksana. Benar, stamina memang tidak hanya merujuk soal fisik saja namun juga sisi psikis. Untuk bisa mencapai stamina batin yang tangguh menghadapi berbagai kendala tentu dibutuhkan latihan. 

Lakukan kebiasaan positif meski sederhana ini, cobalah menulis 3 halaman setiap hari tentang aktifitas kehidupan orang-orang di sekitar Anda. Tulis dengan cara memaparkannya melalui penggambaran panca indera sehingga pembaca seolah melihat, mendengar, membaui, dan merasakan pengalaman yang Anda suguhkan. 

Jadi jangan putus asa jika Anda menemui gang buntu. Masih banyak jalan lain yang terbuka selama Anda tidak pasrah untuk menyerah pada keadaan. Mungkin suatu saat Anda ingin menulis suatu tema, namun di tengah jalan menemui hambatan teknis sehingga enggan menuntaskannya. 

Seharusnya Anda menyadari sejak awal bahwa bidang menulis akan mengajarkan ketekunan, ketelitian, dan pemusatan perhatian. Hambatan teknis biasanya terjadi karena kita tidak membuat detil yang lengkap tentang sebuah tema. Proses menulis akan lancar semulus meluncur di jalan tol kalau Anda mempersiapkan sebuah tema dengan data yang akurat, komprehensif, dan lengkap. 

Jika karya tulis ditolak oleh penerbit lagi, itu bukan tanda akhir perjalanan kreatif kepenulisan Anda. Semua penulis sukses pernah mengalami itu, namun mereka terus menulis dan tidak menyerah hingga tujuan tercapai. Bagaimana dengan Anda?


Surabaya, 06 Nopember 2016

Sabtu, 05 November 2016

Cara Mengembangkan Potensi Diri dengan Menulis


Kadang, kita enggan menulis karena takut melakukan kesalahan. 
"Indahnya menulis adalah Anda tidak harus melakukannya dengan benar saat pertama kali, 
tidak seperti bedah otak, misalnya." 
( Robert Cormier )


Ketakutan adalah hal wajar, ini artinya Anda adalah manusia biasa. Rasa takut kalau dikaitkan dengan pekerjaan biasanya menghinggapi ketika kita berharap hasil yang sempurna. Namun alih-alih bekerja dengan optimal, kita malah tidak mengerjakan apa pun karena menganggap apa yang kita kerjakan serba salah.

Tak terkecuali bidang menulis. Kadang, kita enggan menulis karena takut hasilnya tidak bagus. Padahal dengan menulis justru kita bisa mengeksplorasi kemampuan kita menjadi demikian nyata. Kita akan mengetahui potensi diri yang perlu aktualisasi. Rasa takut ketika menulis hanya akan membenamkan potensi diri sendiri. 

Dan kabar baiknya, latihan-latihan menulis akan membuat kita mampu mengesampingkan rasa takut. Bagus dan jelek hasil karya menulis hanyalah soal penilaian yang subjektif dan tidak perlu jadi acuan. Tulis saja hal-hal positif yang Anda ketahui. Kebiasaan ini akan membuat pribadi Anda semakin tangguh karena telah berbagi kebaikan dengan orang lain.

Latihan-latihan menulis juga akan membuat perbendaharaan kosa kata yang Anda ketahui semakin banyak. Karya tulis yang  memadu-padankan kata-kata variatif tentu mempunyai nilai plus dibanding karya tulis yang kosa katanya monoton. Dan prestasi ini hanya bisa diperoleh kalau Anda membiasakan diri tekun menulis setiap hari.

Indahnya menulis adalah Anda tidak harus melakukannya dengan benar saat pertama kali. Sejenius apapun penulis, rasanya mustahil mampu menghasilkan tulisan yang bagus dalam sekali kerja. Tugas kepenulisan adalah kerja yang memerlukan ketepatan memilih tema, kecemerlangan menterjemahkan tema dalam tulisan, dan kesabaran mengoreksi kekurangan-kekurangan pada tulisan yang selesai Anda kerjakan. 


Surabaya, 05 Nopember 2016

Selasa, 01 November 2016

Cara Sederhana Mendapatkan Ide Setiap Hari



Carilah inspirasi dari buku. 
"Baca, baca, baca. Baca semuanya.
 Baca! Anda akan menyerapnya. 
Kemudian tulis. 
Jika bagus, Anda akan mengetahuinya.

( William Faulkner )


Semua pekerjaan tentu butuh modal. Modal dasar untuk bisa menulis adalah kemauan, setelah itu Anda butuh ide. Kabar baiknya ternyata mencari ide itu sangat mudah. Carilah ide alias inspirasi dari buku. 

Caranya sangat sederhana, Anda hanya wajib "Baca, baca, baca." Baca semuanya; buku bertema klasik, pop, sastra, hiburan, tutorial, dan masih banyak yang lainnya. Lihat bagaimana buku-buku tersebut menawarkan ide-ide yang tak pernah habis.

Baca! Anda akan menyerapnya. Memang kenyataannya begitu, semakin Anda terbiasa membaca, Anda akan peka terhadap ide. Anda akan mudah dan piawai memilah dan memilih ide yang berserakan di lembar-lembar buku yang sedang dibaca.

Kemudian tulis ide yang baru saja Anda dapatkan. Tulis semua hal yang berkaitan dengan ide tersebut yang terlintas di pikiran tanpa menyuntingnya. Setelah Anda merasa sudah tertuang semua dalam tulisan, anda boleh mengistirahatkan jiwa dan raga.

Esok hari, lihat kembali tulisan tersebut. Sekarang pikiran Anda sudah cukup jernih untuk menyunting kata, kalimat, dan paragraf. Anda pasti heran saat membaca kembali tulisan tersebut, betapa banyak yang perlu dibenahi. Setelah diperbaiki sana-sini, Anda akan merasa begitu mudahnya menulis. 


Surabaya, 02 Nopember 2016

Senin, 31 Oktober 2016

Cara Mengejar Ide Agar Tidak Bosan Menulis


Ide dapat kita peroleh dari banyak hal. "Anda mendapatkan ide dari mengkhayal. 
Anda mendapatkan ide dari rasa bosan. Anda mendapatkan ide setiap saat. 
Perbedaan penulis dengan orang biasa adalah kita sadar saat kita melakukannya."
( Neil Gaiman )

Banyak orang mengatakan bahwa menulis adalah pekerjaan seorang intelektual. Jawabannya mungkin "iya". Sesederhana apapun wujud karya tulis, tetap melibatkan pemikiran yang tidak sederhana dalam diri penulisnya. Pekerjaan memikir adalah pekerjaan para intelektual. Maka pernyataan di atas ada benarnya.

Namun tidak semua tugas-tugas memikir dialamatkan kepada para intelektual. Orang biasa pun bisa memikir, tentu dengan kadar kemampuan masing-masing. Karena pada hakekatnya, manusia adalah makhluk pemikir. Seorang filsuf bahkan pernah bikin statemen, "Aku ada karena aku bertanya."

Ya, proses memikir selalu diawali dengan sikap bertanya. Dalam dunia tulis menulis, ide dapat kita peroleh dari banyak hal, salah satunya melalui sebuah pertanyaan. Ya, cukup sebuah pertanyaan diajukan, maka sejumlah jawaban yang keluar bisa dijadikan bahan untuk menulis.

Nah, ketika Anda mendapati diri berkubang dengan rasa bosan saat akan menulis karena ide tak kunjung muncul di pikiran maka Anda selayaknya mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal di semesta ini. Dengan cara ini Anda pasti mendapatkan ide setiap saat.

Mengutip kata Neil Gaiman di atas, "Perbedaan penulis dengan orang biasa adalah kita sadar saat kita melakukannya."  Ya, ketika Anda menyadari ada sebuah pertanyaan yang diajukan terhadap fenomena di sekeliling Anda, maka Anda layak disebut penulis saat menuangkan pertanyaan itu beserta jawabannya dalam bentuk karya tulis dengan tujuan berbagi pengalaman dengan orang lain.


Surabaya, 01 Nopember 2016

Jumat, 28 Oktober 2016

Mewaspadai Rasa Lelah Saat Menulis



Jika lelah atau malas, lakukanlah perlahan-lahan. 
"Jika ditanya, 'Bagaimana Anda menulis?' 
Saya akan menjawab, 'Satu demi satu kata.' 
~ Stephen King


Hal yang menggembirakan bagi manusia adalah bahwa Tuhan menganugerahkan rasa lelah atau malas sebagai alarm pengingat. Ketika kita bekerja, tiba-tiba ada perasaan lelah menyelinap ke dalam pikiran. Saat menghadapi situasi ini, kita harus introspeksi.

Ada beberapa pertanyaan yang harus kita ajukan untuk mengetahui asal muasal terbitnya rasa lelah atau malas ini. Misalnya, apakah tugas yang kita kerjakan sangat membebani? Mengapa membebani? Apakah kita tidak menguasai pekerjaan tersebut?

Dalam dunia tulis menulis, munculnya rasa lelah atau malas biasanya karena faktor ketidaktahuan tujuan.  Logikanya, seseorang yang bepergian tanpa tujuan yang jelas tentu akan tersesat atau berjalan sembarang arah. Bekerja tanpa tujuan hanya buang waktu, pikiran, dan tenaga. Disamping itu, bekerja tanpa tujuan akan menghadirkan rasa lelah dan malas.

Saat kita menulis lantas timbul rasa lelah adalah wajar. Istirahatlah sejenak. Namun mana kala rasa lelah masih tak mau hilang meskipun kita sudah istirahat bahkan sampai ketiduran, itu berarti rasa lelah yang perlu diwaspadai.


Surabaya, 29 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Pendorong Semangat Menulis



"Temukan alasan mengapa Anda harus menulis; Lihatlah apakah dia telah mengakar dalam hatimu; Katakan pada dirimu bahwa Anda lebih baik mati daripada dilarang menuliskannya." ~ Rainer Maria Rilke.


Menjadi penulis, tidak selamanya kita bersemangat menulis. Ada kalanya kita merasa tidak tahu apa yang mesti ditulis. Hal ini dapat mengakibatkan semangat menulis menjadi kendur.

Kalau mau sedikit koreksi diri, sebenarnya hilangnya semangat menulis kadang terjadi karena tidak tahu materi yang akan kita tulis sehingga otak tidak bisa diajak kerja sama.

Hal lain yang bisa juga menjadi penyebab kempesnya semangat menulis adalah tidak adanya tujuan yang jelas. Coba direnungkan sebentar, sebenarnya kita menulis untuk siapa dan untuk apa?

Kalau kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, dapat dipastikan semangat menulis akan terpelihara sehingga mampu meningkatkan kinerja otak untuk merangkai kata demi kata sesuai target yang terarah dan pasti.

Demikian kawan, semoga tulisan singkat ini mampu menjadi sumber yang inspirasional untuk mengembalikan semangat Anda dalam menulis.


Surabaya, 27 Oktober 2016

Cara Cepat dan Tuntas Menulis Cerita Pendek

1. Mencari ide  Ide bisa datang dari mana saja, jadi bawa buku kecil kemana saja Anda pergi. Tulis semua ide yang melintas di pikiran An...